Desak Mundur Amien Rais, Konflik di Internal PAN Ditanam Lawan Politik

Oleh : Pangi Syarwi Chaniago
Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Opini – Desakan mundur terhadap dewan pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais oleh sebagian pendiri PAN menjadi perbincangan hangat menjelang pergantian tahun 2018. Sebagian pendiri PAN mempersoalkan sikap Amien Rais yang mereka nilai telah melanggar nilai-nilai dan azaz perjuangan partai dan memanfaatkan agama demi kepentingan politik pribadi.

Pernyataan ini dibuat melalui surat terbuka yang ditandatangani oleh Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty Zumrotin. Kini surat terbuka tersebut telah beredar luas dan menjadi perbincangan publik.

Patut diduga, kelima pendiri PAN di atas, yang sudah lama non aktif di pengurusan PAN dipakai untuk menjadi kaki tangan rezim Jokowi untuk melemahkan/mematikan mesin dukungan PAN terhadap Prabowo-Sandi, diduga kelima pendiri PAN tersebut punya motif politis untuk melakukan operasi pembelahan dan dualisme pada kepengurusan PAN itu sendiri. Kalau itu yang terjadi, ada hubungan campur tangan capres lain  yang melakukan permainan mengoreng PAN, sangat disayangkan berpolitik memecah belah dan melakukan pembelahan di internal PAN demi merusak soliditas dukungan PAN terhadap capres oposisi yang mengusung Prabowo-Sandi.

Surat terbuka tersebut mengindikasikan adanya kejanggalan dalam upaya mendongkel dan men-deligitimasi posisi Amin Rais dari struktur partai.

Pertama, adanya manuver politik oleh mantan pendiri Partai. Manuver politik ini sangat jelas terbaca di mana adanya perbedaan pandangan dalam dukungan terhadap calon presiden.

Sikap Amien Rais yang memposisikan diri berseberangan dengan pemerintah dan dukungan pada Prabowo adalah pemicu utama dari kritik mantan pendiri PAN tersebut.

Ada dugaan ingin mendelegitimasi, mengusur Amin Rais sebagai pemilik saham dan founding father PAN. Menjadi pertanyaan mendasar mengapa kelima orang yang mengaku sebagai pendiri PAN  dan sudah lama tidak aktif sebagai pengurus PAN, mendekati pilpres tiba-tiba mereka bersuara, apakah ada motif politik? Ada upaya mereka banting stir mesin partai sehingga efektifitas mesin politik PAN dan soliditas dukungan PAN terhadap Prabowo-Sandi sedikit terganggu karena turbulensi mesin PAN?

Manuver politik ini juga bisa dimaknai sebagai upaya menyeret partai ke dalam konfik internal dalam rangka menurunkan soliditas dan loyalitas kader yang all out mengamankan sikap partai dalam upaya memenangkan Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres yang diusung partai. Hal ini bisa dilihat dari indikasi adanya sebagian kader yang memberikan dukungan ke kandidat lain.

Kedua, perebutan pengaruh. Penggunaan istilah “pendiri PAN” menunjukkan bahwa mereka yang memberikan kritikan terhadap Amin Rais sedang memainkan opini dalam upaya berebut pengaruh dan penguasaan opini publik bahwa mereka yang sedang memberikan kritikan bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa mendirikan partai dan menjadi besar seperti saat ini.

Mereka memposisikan diri sebagai “pendiri” partai yang akan mengulurkan tangan untuk “menyelamatkan” partai dari ulah Amien Rais yang dianggap sudah tidak lagi sesuai dengan  platform ideologis garis perjuangan partai.

Memposisikan Amin Rais tidak lagi sejalan dengan garis perjuangan partai tentu adalah upaya serius untuk menjatuhkan secara langsung citra personal Amien Rais. Upaya ini diharapkan akan merubah haluan partai sesuai dengan kepentingan politik mereka untuk kembali mempersoalkan sikap partai dalam memberikan dukungan terhadap pasangan capres dalam pemilu 2019.

Seandainya dukungan Amin Rais bulat ke Jokowi maka hampir dipastikan tak bakal ada gejolak konflik dari kelima orang yang mengaku sebagai pendiri PAN, tak bakal bersuara dan mengusik di internal PAN?

Ketiga, respon terhadap dinamika internal. Surat terbuka ini juga tidak bisa dipisahkan dari adanya sikap yang berbeda beberapa pengurus PAN di daerah seperti Kalimantan Selatan (kalsel) dan Sumatera Selatan (sumsel) yang secara terang-terangan memberikan dulungan kepada pasangan capres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sikap beberapa kader partai dari daerah ini seolah mendapat legitimasi dari pendiri PAN sehingga jika daerah lainnya membuat pernyataan sikap yang sama diharapkan bisa dimaklumi.

Situasi semacam ini, tentu posisi macam ini sangat tidak menguntungkan bagi partai, PAN harus membuat keputusan tegas untuk meminimalisir situasi ini karena jika dibiarkan akan meluas seperti bola salju makin lama makin membesar, menular ke daerah lainnya dan bahkan akan merambat ke pengurus pusat yang merasakan kegelisahan dan aspirasi yang sama.

Namun surat terbuka dari pendiri PAN ini sepertinya tidak akan berdampak efektif terutama untuk menggoyang posisi Amien Rais. Sebab Amien Rais adalah sosok yang sangat powerfull di internal partai dan banyak memberi warna terhadap perjalanan panjang partai tersebut hingga hari ini.

Di sisi lain, mereka yang memposisikan diri sebagai pendiri partai itu tidak punya pengaruh yang kuat di PAN sehingga tidak bisa mempengaruhi pengambilan keputusan di internal partai tersebut, membuat surat terbuka adalah pilihan terahir yang bisa mereka lakukan.

Oleh karena itu, kalau kita cermati lebih dalam, konflik internal PAN, adanya pengurus PAN yang ramai ramai mungundurkan diri dengan alasan tidak cocok lagi dengan kepemimpinan PAN sekarang, hanya sebagai pintu masuk, yang jelas patut dicurigai  ada misi mengusik soliditas dukungan PAN terhadap capres-cawapres Prabowo Sandi yang belakangan mesin PAN all out habis dan cukup efektif mendongkrak elektabilitas Prabowo-Sandi.

Lagi-lagi sangat disayangkan, waktu empat bulan yang tersisa menjelang pilpres dan pileg serentak, mestinya PAN fokus menyiapkan strategi bagaimana PAN  minimal bisa lolos parlementry threshold dan maksimal bisa masuk ke level partai besar, bagaimana PAN bisa mengantarkan Prabowo-Sandi jadi presiden dan wakil presiden.

Melihat fenomena konflik internal yang makin bising dan meluas, jelas menganggu konsentrasi pengurus sekarang dan disadari atau tidak ada operasi tim lawan, konflik ditanam dan dimainkan lawan politik, mengusik konsentrasi PAN dengan memantik api konflik di internal.  Ini bisa membahayakan masa depan PAN kalau tidak segera dipadamkan apinya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *